Penyalainews, Pekanbaru - Dugaan tindakkan Nepotisme mencuat di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Senapelan 01 kota Pekanbaru.
Program pemerintahan Prabowo-Gibran itu dicederai oleh kepentingan individu tertentu dengan mengorban para relawan-relawan kemanusiaan yang bekerja di dapur MBG jalan Jati Kecamatan Senapelan.
Sebagaimana diketahui, dapur itu dibawah wewenang Yayasan IKI yang merupakan mitra kerja Badan Gizi Nasional untuk wilayah Provinsi Riau, khususnya di Kota Pekanbaru.
Dugaan Nepotisme dan perlakuan semena-mena itu diungkapkan oleh salah satu relawan D, ia mengatakan tiga orang Petinggi SPPG yaitu Kepala (MAS), Ahli Gizi (S), dan Akuntan (M) membuat para petugas dapur tidak nyaman dalam menjalankan tugas.
"Kepala SPPG (MAS) terkadang bertindak semena-mena dengan berkata kasar, dan yang membuat tidak nyaman adalah dia membuat kebijakan dengan mengganti posisi (rolling) kepada petugas dapur,"jelas D kepada wartawan, Senin, (02/02/2026).
Dijelaskan D semua relawan merasa tidak nyaman dalam menjalankan tugas, sikap arogansi Kepala SPPG sangat dinilai mencederai sistem di dalam Dapur
"Kadang dia berkata-kata kasar dan paling parahnya dia mengganti (merolling) kami sesuka hati tanpa melakukan koordinasi, seharusnya disini sudah ada desk-desknya, tindakan dia sangat merusak sistem di dapur," jelasnya.
Lebih parahnya lagi, D menyebutkan, selama Kepala SPPG Senapelan MAS itu menjabat, sudah 4 orang yang berhenti menjadi relawan, alasan mereka bahwa ada sikap intimidasi dan perkataan kasar yang dilakukan A.
"Sudab 4 orang keluar, hampir semua relawan merasa tidak betah, dan kami meminta Korwil KPPG segera mangganti kepala SPPG MAS, S ahli gizi dan M," sebut D.
Yang lebih mengejutkan lagi, setelah relawan keluar, D mengungkapkan Kepala SPPG MAS diduga memasukkan mertua dan orang-orangnya untuk mengganti posisi yang kosong.
"MAS secara semena-mena diduga memasukkan mertua nya sebagai relawan, setelah ada relawan yang keluar, ini sangat tidak adil, di SPPG ii sistemnya sudah sangat kacau, ia berharap korwil turun tangan,"ujarnya.
Di kesalahan lain, D juga menyampaikan Kepala SPPG MAS diduga memperkerjakkan relawan di luar batas umur.
"Ada juga relawan yang bekerja di luar batas umur, itu petugas dapur ada berumur diatas 50 tahun, ini jelas menyalahi aturan," jelasnya.
D juga berharap pihak berwenang segera bertindak, agar sistem didapur di SPPG Senapelan 01 bisa berjalan seperti biasanya.
Menanggapi hal itu, Kepala SPPG Senapelan 01 MAS dalam pernyataan mengatakan bahwa ia tidak mengakui telah melakukan pergantian tugas kerja kepada petugas dapur dan berbanding terbalik
"Saya tidak bermaksud mengganti bagian kerja terhadap tugas dari relawan, tetapi kami menempatkan sesuai kebutuhan," jelasnya.
Saat ditanya apakah MAS ada memasukkan mertuanya sebagai relawan, MAS memberikan pernyataan berbeda. Pertama ia mengaku tidak ada, tapi setelah ditanya berkali-kali ia akhirnya mengakui.
"Memang ada saya memasukan mertua saya, tetapi itu untuk mengisi relawan yang sedang kosong," sebutnya.
Kemudian, awak media juga bertanya soal memperkerjakan relawan di atas batas umur, Kepala SPPG MAS juga mengakuinya.
"Juga ada relawan yang berkerja diatas batas umur, yaitu mereka suami-istri," akui Kepala SPPG MAS
Merespon hal persoalan itu, Koordinator Wilayah Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Pekanbaru Helin Fauziah menjelaskan bahwa tidak bisa relawan diisi oleh orang-orang terdekat oleh pengurus SPPG.
"Tidak bisa diisi oleh orang-orang dari pengurusSPPG, penerimaan relawan harus mengikuti aturan dan petunjuk teknis (Juknis) jika ada yang menyalahi aturan tersebut maka akan di beri sanksi tegas"jelasnya.
Terkait batas umur relawan, Helin menjawab, untuk petugas dapur itu wajib dibawah umur 50 tahun.
"Relawan wajib dibawah umur 50 tahun, jika ada memperkerjakan diambang batas umur tersebut ia sudah menyalahi aturan dan juknis,"pungkasnya.***red/rfm

Comment